Indonesia   English

News

PRINSIP KESEJAHTERAAN SATWA DI KEBUN BINATANG

PRINSIP KESEJAHTERAAN SATWA DI KEBUN BINATANG

Pendahuluan

Peraturan perundangan yang erat kaitannya dengan kebun binatang di Indonesia adalah Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 35/1997 tentang pembinaan dan pengelolaan Taman Flora Fauna di Daerah, dan surat keputusan Menteri Kehutanan No. 479/Kpts – II/1998 tentang Lembaga Konservasi Tumbuhan dan Satwa Liar. Dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri tersebut agar seluruh Gubernur dan Bupati di Indonesia melakukan pembinaan dan pengelolaan terhadap flora dan fauna yang ada di daerahnya masing – masing. Sedangkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 479 tahun 1998 tersebut menjelaskan tentang perijinan, kriteria, persyaratan, hak dan kewajiban kebun binatang.

Pendirian kebun binatang di Indonesia harus seijin Menteri Kehutanan dan mendapatkan rekomendasi dari pemerintah daerah setempat serta PKBSI (Perkumpulan Kebun Binatang Se-Indonesia). Pengelola kebun binatang juga diwajibkan untuk mengirimkan laporan secara rutin tentang pengelolaan satwa (termasuk penambahan dan pengurangan satwa) ke Menteri Kehutanan melalui staff di bawahnya (Direktorat PKA). Biasanya laporan tersebut dibuat setiap 3 bulan sekali. Setiap satu tahun sekali, Kantor Wilayah Departemen Kehutanan akan melakukan evaluasi terhadap keberadaan kebun binatang yang ada di daerahnya.

Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 479/Kpts-II/1998 disebutkan tujuan utama kebun binatang (sebagai lembaga konservasi ex-situ) adalah sebagai tempat pemeliharaan atau pengembangbiakan satwa liar di luar habitatnya agar satwa tersebut tidak punah. Arti sebenarnya fungsi utama kebun binatang adalah untuk konservasi satwa. Hal ini dipertegas oleh banyak orang yang bekerja di kebun binatang yang selalu mengatakan bahwa fungsi kebun binatang adalah sebagai tempat konservasi dan pendidikan. Dalam lampiran instruksi Menteri Dalam Negeri juga disebutkan tujuan dari taman satwa (kebun binatang) adalah untuk melestarikan satwa tersebut dengan mengembangbiakannya yang mempunyai fungsi konservasi, pendidikan, penelitian dan sarana rekreasi.

Hak dan kewajiban kebun binatang di Indonesia telah diatur dalam Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 479/Kpts-II/1998 tentang Lembaga Konservasi Tumbuhan dan Satwa Liar. Dalam surat keputusan tersebut (pasal 9) dicantumkan tentang kewajiban kebun binatang, antara lain :

Membuat rencana karya pengelolaan
Menyediakan sarana dan prasarana pengelolaan
Memelihara dan Mengkarkan jenis tumbuhan dan satwa sesuai dengan ketentuan yang berlaku
Memperkerjakan tenaga ahli sesuai bidangnya
Dilarang memperjualbelikan satwa yang dillindungi
Membuat laporan pengelolaan secara berkala termasuk mutasi jenis satwa

Sementara itu batasan pengertian taman satwa (kebun binatang) menurut PKBSI adalah :

Suatu tempat atau wadah yang berbentuk taman dan atau ruang terbuka hijau dan atau jalur hijau yang merupakan tempat untuk mengumpulkan, memelihara kesejahteraan dan memperagakan satwa liar untuk umum dan yang diatur penyelenggaraannya sebagai lembaga konservasi ex-situ.
Satwa liar yang dikumpulkan dalam wadah taman satwa adalah satwa liar yang dilindungi dan tidak dilindungi oleh Peraturan Perundang-undangan, dan akan dipertahankan kemurnian jenisnya dengan cara dipelihara, ditangkarkan diluar habitat aslinya.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.53/Menhut-II/2006 tentang lembaga konservasi, bahwa kebun binatang adalah suatu tempat atau wadah yang mempunyai fungsi utama sebagai lembaga konservasi yang melakukan upaya perawatan dan pengembangbiakan berbagai jenis satwa berdasarkan etika dan kaidah kesejahteraan satwa dalam rangka membentuk dan mengembangkan habitat baru, sebagai sarana perlindungan dan pelestarian jenis melalui kegiatan penyelamatan, rehabilitasi dan reintroduksi alam dan dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta sarana rekreasi yang sehat.

Mengacu  dari pengertian atau batasan dari kebun binatang tersebut diatas, jelas disebutkan bahwa faktor kesejahteraan satwa (animal welfare) yang ada di kebun binatang  harus mendapatkan perhatian serius. Asosiasi Kebun Binatang Asia Tenggara atau SEAZA (South East Asia Zoo Association) menegaskan bahwa salah satu fungsi kebun binatang adalah untuk mempromosikan masalah animal welfare ke masyarakat (sebagai nilai pendidikan).

Perkumpulan Kebun Binatang Asia Tenggara adalah organisasi industri kebun binatang international yang mewakili lembaga-lembaga di beberapa negara Asia, termasuk Indonesia. SEAZA memperkenalkan suatu kode etik, standar untuk memelihara satwa liar dalam kandang dan menyediakan berbagai macam pelayanan bagi anggotanya, seperti workshop pelatihan dan konferensi.

Menurut website SEAZA, tujuan utama dari SEAZA adalah untuk membantu anggotanya untuk mengembangkan dan meningkatkan standart yang tinggi dalam menampilkan satwa koleksi dan kesejahteraan satwa hasil koleksi mereka, dan jika hal ini tidak berhasil dilaksanakan, minimal menjamin standart yang ada ditaati. Mereka selanjutnya akan mengevaluasi anggota perkumpulan kebun binatang secara periodik dan diharapkan untuk meningkatkan standart yang telah ada jika diperlukan. Perundang-undangan nasional tentang kesejahteraan satwa harus ditinjau kembali dengan pandangan jangka panjang tentang penutupan kebun binatang yang tidak memenuhi standart minimal.

PRINSIP LIMA KEBEBASAN SATWA

Pada tahun 1965, komisi Bramble yang berbasis di Inggris meninjau kembali kesejahteraan satwa peternakan yang digunakan dalam pemanfaatan pertanian secara intensif. Mereka memformulasikan seperangkat standart minimum kesejahteraan yang akhirnya dikenal sebagai ‘Prinsip Lima Kebebasan’. Selama bertahun-tahun standart ini direvisi oleh Dr. John Webster dkk. Revisi yang paling baru oleh Komite Kesejahteraan Hewan Peternakan Inggris terjadi pada tahun 1993.

‘Lima Kebebasan satwa’ itu adalah :

Kebebasan dari rasa haus, lapar dan kekurangan gizi dengan menyediakan akses air minum segar dan makanan yang terus menerus untuk menjaga kesehatan dan kekuatannya.

Hal ini adalah kebutuhan dasar semua satwa yang berada dalam kandang yang seharusnya menekankan pertimbangan jenis makanan yang disediakan, frekuensi dan cara penyajiannya, serta kualitas gizi makanannya. Keterbatasan akan air dan makanan harus diberikan berdasarkan persyaratan yang spesifik dibutuhkan oleh species tersebut.

Kebebasan dari ketidaknyamanan secara fisik dan cuaca panas dengan menyediakan suatu lingkungan yang sesuai termasuk tempat berlindung dan tempat istirahat yang nyaman.

Menanggapi tentang kebebasan ini maka memerlukan pertimbangan beberapa faktor termasuk perlindungan dari kondisi cuaca buruk (contoh hujan, salju dan angin), ketersediaan akan udara segar, tempat yang teduh dan hangat, tempat yang terjangkau sinar matahari jika memang diperlukan, ketersediaan lorong bawah tanah yang sesuai dan dalam bagi satwa yang suka menggali tanah, ketersediaan pohon, fasilitas untuk memanjat dan bahan lainnya yang memungkinkan penggunaan ruang yang vertikal bagi hewan yang suka memanjat atau terbang.

Kebebasan dari rasa sakit, luka dan penyakit melalui pencegahan atau diagnosis cepat dan perawatan rutin.

Faktor –faktor yang perlu dipertimbangkan dalam hubungannya dengan kebebasan ini termasuk desain kandang, ketersediaan perlengkapan kandang, kebutuhan alat-alat yang dibutuhkan, ketersediaan ruang yang cukup dan hidup sosial berkelompok yang sesuai untuk mencegah konflik antar satwa, sanitasi yang sesuai, makanan dan perawatan kesehatan dari dokter hewan untuk mencegah atau merawat luka dan penyakit yang diderita oleh satwa.

Kebebasan untuk mengekspresikan perilaku secara normal dengan menyediakan ruangan yang cukup luas, fasilitas yang sesuai dan berkelompok

Prinsip kebebasan yang keempat ini melengkapi kesehatan dan kesejahteraan satwa peliharaan sebagaimana untuk mencapai tujuan yang dapat dijelaskan pada kebun binatang, taman satwa dan fasilitas lainnya. Semua satwa kurungan harus mendapat porsi yang penting dalam rezim perilaku alaminya. Mereka harus diberi kesempatan untuk memilih dan mengontrol, agar memungkinkan mereka untuk membuat kontribusi yang berarti dalam kualitas hidup mereka sendiri.

Kebebasan dari rasa takut dan tertekan dengan memastikan kondisi dalam kandang dan merawatnya untuk menghindarkan mereka dari penderitaan mental.

Kebebasan ini termasuk tidak hanya dari rasa takut dan penderitaan yang disebabkan oleh luka fisik atau intimidasi yang disebabkan oleh satwa yang hidup dalam kelompok sosial yang berlebihan atau tidak normal, tetapi juga ancaman predator (pemangsa) dari luar dan penyakit. Frustasi dan kebosanan harus juga diperhatikan sama seperti satwa lainnya yang mengalami stress secara kronik seperti mengalami masalah pendengaran, penciuman dan rangsangan pengelihatan.

Kelima kebebasan satwa diatas merupakan hal yang sempurna bagi kerangka kerja penilaian untuk memeriksa kebun binatang dan lembaga pemeliharaan satwa lainnya.

Kesejahteraan satwa (Animal Welfare) tidak hanya sekedar pemenuhan kebutuhan fisik atau ketidakadaannya luka atau penyakit. Meskipun fungsi-fungsi fisik dan kondisi keseluruhan adalah aspek penting dalam kesejahteraan satwa, kesejahteraan suatu satwa masih dapat dikatakan buruk walaupun tidak terdapat masalah fisik yang nyata dalam tubuhnya. Sebagai contoh jika satwa berada dalam keadaan takut, bosan, frustasi, cemas atau menderita stress kronis mereka mungkin nampak “normal” tetapi sebenarnya mereka tidak berada dalam keadaaan sejahtera.

Secara umum, satwa yang ditempatkan dalam kandang yang tidak memenuhi syarat, akan memperlihatkan keseluruhan penurunan tingkat interaksi dengan lingkungan mereka. Hal ini dapat diekspresikan dalam berbagai macam perilaku, seperti ketika mereka duduk, berbaring atau memperbanyak tidur, reaksi yang berlebihan terhadap hal baru atau peningkatan perilaku abnormal seperti perilaku stereotip/abnormal (seperti bergoyang-goyang, mondar-mandir, menggeleng-gelengkan kepala, mempermainkan lidah dll)

Dalam usaha untuk mengurangi frustasi, kebosanan dan penyebab stress lainnya secara perlahan mereka menjauh dari lingkungannya daripada berinteraksi dengan lingkungannya, mereka menjadi tidak aktif, hanya duduk-duduk, berbaring atau tidur dalam waktu yang lama secara tidak normal. Beberapa satwa mulai menunjukkan perilaku stereotip, melakukan kegiatan secara terus menerus/lama, obsesif, berulang-ulang  dan tidak bertujuan yang tidak terjadi di alam dan biasanya mengindikasikan kesejahteraan yang kurang. Kebanyakan perilaku stereotip terjadi ketika satwa telah gagal untuk mengatasi atau gagal mengalihkan diri dari situasi yang mengakibatkan stress.

Memenuhi kebutuhan perilaku satwa liar dalam kurungan adalah hal penting bagi kesejahteraan mereka akan tetapi hal ini secara rutin sering dilupakan atau diabaikan oleh banyak kebun binatang. Semua satwa yang dipelihara dalam kandang harus diberikan kesempatan untuk mengontrol lingkungannya dan kesempatan untuk membuat pilihan singkatnya, mereka harus diijinkan untuk memiliki kontribusi yang berarti terhadap kualitas hidup mereka sendiri.

Perilaku stereotipe

Perilaku stereotipe adalah istilah yang sering muncul dalam mendiskusikan kesejahteraan satwa terutama satwa yang dikurung dalam kandang. Terdapat banyak definisi tentang perilaku stereotipe yaitu :

“Pengulangan secara relatif kelangsungan gerakannya tidak bervariasi dan tidak punya tujuan yang jelas” (Broom)

“Bentuk perilaku yang biasa dialami oleh satwa dalam hampir semua aktifitasnya tanpa menunjukkan adanya rangsangan normal yang akhirnya membawanya dalam keadaan stereotipe” (Jordan dan Ormod)

Indikator kunci adalah perilaku yang tidak terjadi di alam, adalah tindakan berulang – ulang dan perilaku itu tidak ada fungsinya. Sebagian besar perilaku stereotip terjadi ketika satwa telah gagal untuk mengatasi atau mengalihkan dirinya dari keadaan yang menyebabkan stress.

Perilaku stereotipe tidak dapat dicampurkan dengan perilaku displacement. Perilaku displacement biasanya terjadi ketika satwa sedang berada dalam keadaan frustasi untuk mencapai tujuan (contohnya dalam kompetisi makanan atau memenangkan konfrontasi). Perilaku displacement mungkin tidak berhubungan dengan tujuan semula (contohnya focus pada diri sendiri, menggaruk-garuk atau mondar – mandir) dan tujuan dari perilaku itu merupakan suatu usaha untuk mengurangi perasaan konflik dan frustasi.

Sejak endorpin diketahui dikeluarkan oleh satwa yang mengalami stereotipe, pengeluaran candu alami ini akan membuat satwa tersebut merasa “senang” dalam menjalankan aktifitasnya, walaupun dalam keadaan yang “tinggi”. Kenyataannya bahwa candu alami ini diberikan pada saat tubuh berada dalam stimulus stress seperti rasa sakit. Poin kunci adalah bahwa perilaku ini dihasilkan sebagai akibat dari kondisi lingkungan yang tidak memuaskan dan dalam beberapa hal penderitaan mental ini telah terjadi dan akan terus berlangsung pada masa yang akan datang.

Kandang

Kandang harus didesain sesuai dengan kebutuhan biologis dan perilaku satwa. Dan dapat membuat satwa merasa nyaman, aman dan mereka harus didorong untuk dapat melakukan gerakan khusus sesuai dengan kecenderungan gerakan dan perilaku species tersebut. Lingkungan fisik yang disediakan bagi satwa dalam kurungan berhubungan langsung kesejahteraan satwa karena lingkungan fisik adalah lingkungan untuk berinteraksi bagi mereka setiap harinya.

Banyak jenis kandang yang dipakai saat ini. Tipe tersebut termasuk kandang yang terbuat dari jeruji, lantai semen, pulau yang dikelilingi parit dan perlengkapan kandang yang alami yang hampir menyerupai habitat asli satwa. Lingkungan yang alami biasanya lebih baik bagi satwa sebab jenis kandang dengan bahan alami menyediakan berbagai macam kesempatan untuk mengekspresikan tingkah laku alami mereka.

Bentuk kandang merupakan faktor yang penting dalam mengandangkan satwa. Mamalia arboreal (hidup di atas pohon) memerlukan kandang yang tinggi yang memungkinkan mereka untuk memanjat, sedangkan kelompok satwa lainnya harus dikandangkan dalam kandang yang tidak berujung atau memiliki ujung yang sempit atau ruangan yang kecil dimana satwa dominan secara potensial dapat menjebak satwa lainnya yang lebih lemah.

Bentuk kandang yang benar dapat membuat ruang hidup satwa menjadi lebih komplek, menarik, aman dan memastikan bahwa ada daerah dimana mereka dapat melarikan diri dari pandangan penonton. Pertimbangkan bagaimana setiap satwa dapat bergerak dan berperilaku di lingkungan alaminya.

Ruang

Ruang adalah pertimbangan kritis dalam mengandangkan satwa. Ukuran kandang dari hampir semua kebun binatang ditentukan oleh ketersediaan ruang serta dana, dan bukan pada kebutuhan biologi dan perilaku satwa itu sendiri. Oleh karena itulah kebanyakan kebun binatang menyediakan ruang yang cenderung sempit daripada yang seharusnya.

Ada banyak cara untuk menentukan apakah kandang untuk satwa sudah memiliki ukuran yang tepat atau belum. Salah satu cara adalah dengan membandingkan dengan ruangan yang disediakan untuk tiap satwa yang dipamerkan dengan ruangan satwa yang ada di alam. Tentu saja, hampir semua kandang dikebun binatang seratus atau sejuta kali lebih kecil kecil daripada ruangan satwa yang ada di alam.

Cara lain adalah dengan menentukan apakah kandang untuk satwa memungkinkan adanya gerakan alami (seperti terbang, berlari atau berenang cepat) dan ekspresi secara luas dalam berbagai jenis tipe perilaku. Dalam melakukan hal ini penting untuk menanyakan beberapa pertanyaan :

Apakah ruang yang cukup membuat satwa berperilaku normal?
Apakah ruang yang cukup membuat satwa merasa merasa aman?
Apa konsekuensi jika tidak tersedia ruang yang cukup?

Dalam menentukan luas ruangan untuk satwa tersebut memadai atau tidak, beberapa pertanyaan harus diajukan, Pertanyaan tersebut antara lain yaitu :

Berapa luaskah areal yang diperlukan satwa untuk memenuhi kebiasaan gerak dan perilaku alaminya?
Seberapa luas ruangan yang diperlukan satwa agar merasa aman? Sehingga tidak memicu terjadinya pertarungan atau untuk menghindarkan diri dari serangan atau jika ada ancaman dari pasangannya di dalam kandang?
Apa konsekuensi terhadap satwa yang tidak disediakan ruang yang luas dan memadai

Sebenarnya tidak ada batasan lebih tinggi dalam ukuran kandang. Selalu lebih baik bagi satwa apabila memiliki ruang yang lebih luas dari yang mereka inginkan. Namun penting juga untuk menyadari bahwa kandang kosong yang luas juga  dapat mengganggu kesejahteraan satwa begitu pula sebaliknya jika kandang terlalu kecil. Kandang yang luas haruslah memiliki kualitas yang baik.

Pagar Pembatas

Pagar pembatas yang membatasi satwa harus dibangun secara kokoh, bebas dari kerusakan, sesuai dengan speciesnya dan dapat menampung satwa.

Bahan – bahan seperti anyaman jeruji seringkali lebih murah daripada lainnya dan jika digunakan secara kreatif dengan pemahaman biologi dan perilaku satwa dapat membentuk kandang yang memberi kesempatan bagi satwa untuk memanjat atau bertengger.

Kandang yang berparit sering digunakan karena keliatan lebih baik bagi pengunjung, tetapi sangat mahal pembangunannya. Memerlukan ruang yang luas dan sering dibangun tanpa memperhatikan bahwa satwa mungkin secara tidak sengaja dapat jatuh kedalamnya. Parit yang kering harus terdiri dari beberapa lantai yang berbahan lembut untuk mencegah luka jika satwa jatuh kedalamnya. Pada saat parit berisi air maka harus didesain untuk memungkinkan satwa dapat keluar dengan cepat dan mudah.

Kaca dan pagar pembatas transparan lainnya telah menjadi popular tetapi mahal dan dapat membuat temperatur dan kelembaban sulit untuk dikontrol sebagaimana pembatas ini juga menghalangi sirkulasi udara.

Pada saat menilai kondisi fisik sebuah kandang, yang perlu mendapat perhatian adalah daerah dimana bahan yang berbeda bertemu (contoh kandang kayu sampai dinding batu bata, anyaman kawat sampai kerangka kayu dll). Pergerakan diantara bahan-bahan ini mungkin menyebabkan kerusakan  sehingga daerah/pertemuan ini harus dianggap sebagai titik kelemahan yang potensial. Bersama – sama dengan kerusakan harian dan kehancuran yang disebabkan oleh satwa dan staff yang merawatnya, kombinasi faktor ini mungkin cukup untuk menyebabkan kesalahan pada titik ini seperti kawat bangunan yang sobek, besi berkarat, kayu membusuk dll. Apapun kesalahannya hal itu merupakan suatu bahaya bagi satwa, staff dan pengunjung.

Pada saat anyaman jeruji, anyaman kawat berbentuk berlian atau bahan lainnya ditambahkan pada struktur utama dan pendukung maka bentuk-bentuk kandang seperti itu idealnya harus disesuaikan dengan sisi interior dari struktur pendukung untuk mencegah pemisahan jika satwa mendorong atau bersandar pada sisi tersebut. Demikian juga kandang – kandang yang terdiri dari satwa-satwa yang senang menggali harus ditanam minimal 3 kaki ke dalam tanah dan membengkok kebawah sekitar 45o kemiringan untuk mencegah satwa menggali terlalu dalam dibawah kandang. Untuk satwa yang memanjat atau melompat, kandang harus cukup tinggi untuk mencegah mereka melompat lebih tinggi melebihi kemiringan 45o diatasnya.

Seperti semua aspek desain dan manajemen kandang, pagar pembatas perlu dipastikan bahwa pagar pembatas tersebut berisi semmua satwa yang ada dalam kandang yang harus merasa aman dan efektif.

Beberapa kebun binatang juga membatasi satwa didalam kandangnya, seperti gajah yang sering dirantai disalah satu kaki depannya dan kaki belakangnya. Mengekang satwa dengan cara merantai atau menambatkannya dapat mengarah pada frustasi dan kebosanan karena satwa dihalangi usahanya untuk bergerak dan bersikap normal. Gajah atau satwa lainnya tidak boleh dirantai atau ditambatkan dalam waktu yang lama.

Substrat (Bahan – bahan) Kandang

Suatu kritikan yang penting dalam pemeliharaan satwa yang sesuai adalah penyediaan bahan – bahan kandang yang sesuai. Satwa telah mengalami perubahan yang khusus secara morfologi dan sifat perilaku yang memungkinkan mereka untuk hidup dengan nyaman didalam atau diluar kondisi tertentu. Jika satwa tersebut menolak kesempatan untuk tinggal dengan aktifitas kandang “normal”, mereka dapat mengalami berbagai macam konsekuensi yang buruk.

Lantai semen, campuran semen pasir dalam air (cetakan bahan semacam semen) dan tanah liat (tanah yang dipadatkan mirip semen) tidak dapat dipakai. Ketika permukaan yang keras mungkin lebih disukai menurut sudut manajemen satwa sebab model permukaan lantai yang keras relatif mudah dibersihkan dan mencegah satwa menggali dalam kandangnya, jenis permukaan kandang seperti ini berlawanan dengan perawatan satwa yang baik. Permukaan yang keras dapat menyebabkan satwa merasa tidak nyaman atau secara fisik membahayakan satwa, menambah muatan panas yang dialami oleh satwa dengan radiasi panas dalam cuaca panas dan dengan cepat berubah menjadi dingin dalam waktu yang cepat; jelas membosankan; dan menghalangi pendidikan masyarakat karena menyajikan satwa dalam situasi yang jauh dari konteks ekologi alaminya.

Lantai kawat adalah lantai yang paling buruk dan biasanya digunakan untuk alasan kesenangan saja karena memungkinkan feses untuk jatuh kebawah dan memudahkan untuk disappu/dibersihkan. Lantai kawat dapat menyebabkan ketidaknyamanan, rasa sakit, infeksi dan luka bahkan jika perawatan yang bagus dilakukan untuk memilih jenis kawat dan bahan baku yang paling sesuai.

Permukaan kandang dari kawat juga menyebabkan pengaturan temperatur ruang kandang menjadi sulit karena udara bergerak secara bebas melalui permukaan bawah kawat dan juga melalui bagian lain dari kandang kawat tersebut. Dalam situasi tertentu kandang dengan tipe seperti itu juga menyulitkan penyediaan tempat tidur yang nyaman karena jerami, kepingan kayu dan bahan lainnya mungkin dapat dipakai diatas kawat akan terjatuh ke tanah, hal ini memperburuk masalah temperatur ruangan. Satwa tidak boleh  dipaksa untuk hidup secara tidak nyaman, merusak fisiknya dan keadaan yang membosankan. Mereka harus disediakan dengan lantai yang lembut, yang nyaman dengan menyediakan kesempatan untuk berperilaku secara luas.

Sarana Pelengkap Lingkungan Kandang

Pengkayaan lingkungan adalah proses dinamik dimana struktur, pengkayaan dan praktek perawatan diarahkan pada tujuan menambah kesempatan satwa berperilaku yang sesuai dengan yang mereka inginkan serta mendorong  satwa untuk dapat mengekspresikan perilaku dan gerakan yang sesuai dengan jenis spesies itu.

Pemenuhan kebutuhan perilaku satwa liar dalam kurungan adalah hal penting bagi kesejahteraannya. Menempatkan satwa dalam kandang seperti memaksakan adanya pembatasan biologi dan perilaku satwa karena mereka tidak memiliki cara yang alami untuk mencapainya. Karena sifat dari pengekangan seringkali memberikan kesempatan yang sedikit untuk berperilaku normal dibandingkan apabila disediakan banyak pilihan yang secara umum tersedia bagi mereka dialam, yaitu mereka harus diberikan lingkungan yang se-kompleks mungkin. Semua satwa peliharaan dalam kandang harus dilakukan kontrol atas llingkungan mereka dan kesempatan untuk membuat pilihan. Karena kondisi kebanyakan kebun binatang sepertinya tidak segera berubah maka pengkayaan harus diterapkan secara rutin dan menjadi bagian manajemen harian terhadap satwa.

Sarana pelengkap dalam lingkungan kandang seringkali dipuji sebagai suatu solusi atas berbagai macam masalah yang berhubungan dengan perilaku satwa di kebun binatang dan yang kadang – kadang sering dianggap sebagai tujuan  yang tidak jelas oleh manajemen kebun binatang. Padahal, hal ini justru bisa menjadi strategi yang berguna untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan satwa di kebun binatang, maka seharusnya memberi pemenuhan sarana pelengkap dalam lingkungan kandang itu bisa menjadi sesuatu yang bisa diandalkan. Pemenuhan sarana pelengkap dalam lingkungan kandang adalah suatu mekanisme untuk mengimbangi masalah sistem perkandangan dan perawatan satwa. Hal ini lebih berhubungan dengan gejala – gejala dari masalah yang timbul dibandingkan dengan akar penyebab masalah itu sendiri.

Sebagai tambahan bahwa pengkayaan dianggap penting sebagai proses pemenuhan kebutuhan sarana pelengkap dalam lingkungan kandang bagi satwa dipandang sebagai suatu proses dinamik yang memerlukan pemikiran, usaha, evaluasi dan revisi. Pengkayaan tidaklah sesimpel melemparkan benda kedalam kandang. Memperkenalkan obyek baru pada satwa, mungkin mendorong adanya kegiatan yang bisa dilakukan oleh satwa, tetapi hal-hal baru yang diperkenalkan itu akan segera memudar sebagaimana pengenalan terhadap sarana pelengkap dalam lingkungan kandang itu mulai berkembang. Menjaga satwa dalam kandang yang selalu dalam kondisi baik dan selalu memberikan rangsangan yang alami merupakan prospek yang menantang.

Peningkatan pengkayaan struktural melalui penyediaab bentuk tetap yang sesuai seperti permukaan lantai yang berkontur, batu-batu besar, pohon-pohon besar, parit kecil kolam dan hal-hal lainnya harus diperhatikan dengan hati-hati dalam tahap mendesain kandang. Sehingga minim kemungkinannya terjadi perubahan bentuk kandang setelah pembangunan. Tentu saja hal ini berlangsung tanpa mengatakan bahwa perilaku dan keadaan biologis spesies yang dikandangkan adalah faktor utama dari semua keputusan yang diambil sehubungan dengan bentuk kandang yang tetap digunakan dalam suatu kandang.

Seseorang sering mengabaikan aspek desain kandang untuk penggunaan ruangan vertikal. Menggabungkan bentuk desain dan struktur yang memungkinkan pemanfaatan dimensi vertikal akan menambah kesempatan yang luas untuk pergerakan dan aktifitas, bahkan untuk satwa yang di alam hampir merupakan satwa yang hidup di atas tanah.

Variasi peralatan kandang yang hampir tidak ada habisnya dapat digabungkan dalam memenuhi kebutuhan satwa. Beberapa contoh adalah pohon – pohon kecil, cabang – cabang, kayu gelondongan, tumpukan kayu gelondongan, tumpukan batu-batu kecil, tumpukan semak-semak, gelondongan akar (bola akar), tumpukan pasir/kulit kayu/tumpukan jerami yang mudah dipindahkan dan alat baru lainnya seperti kotak sarang, pipa, tabung, tempat bersembunyi, alat pemanjat, panggung, tempat tidur gantung, kawat ayun, ayunan tali, cincin gantung, tempat menggaruk, kolam air terjun, alat penyiram, pemancar air, rakit, semak-semak, tempat makan yang acak,  bola-bola besar, tulang – tulang nyla, jalan – jalan yang kerucut, ring kayu, kotak-kotak karton dll. Semua itu adalah benda-benda yang dapat dipakai dan dimanipulasi oleh satwa.

Penelitian mengenai aktifitas harian pada satwa liar yang hidup di alam dapat menjadi dasar pembanding bagi satwa liar yang berada dalam kandang. Aktifitas mencari makan dapat mencapai 50% atau lebih dari keseluruhan aktifitas harian satwa tersebut, sehingga sangat penting untuk satwa-satwa dalam kandang yang memiliki perilaku yang banyak berhubungan dengan makan untuk mengekspresikan perilaku tersebut dan hal ini harus dibantu oleh perawat satwa tersebut.

Variasi Makanan

Strategi dalam penyediaan makanan yang bervariasi dan disesuaikan dengan kebutuhan satwa adalah faktor yang penting dalam program pengkayaan makanan bagi kesejahteraannya. Umumnya setiap spesies memiliki aktifitas pengenalan makanan dan mewakili suatu prosentase penting dalam rutinitas harian mereka. Dalam kenyataannya proses pengenalan makanan sangat penting bagi hampir semua satwa dengan evolusi perilaku dan sifat fisik khusus yang dimiliki oleh kebanyakan spesies yang lebih menyukai pengenalan makanan daripada aktifitas lainnya.

Aktifitas pengenalan makanan dapat terdiri dari 50% atau lebih dari aktifitas harian satwa sehingga penting bagi satwa untuk mengekspresikannya. Setiap jenis satwa memiliki perilaku makan yang berbeda dan setiap kandang dapat disediakan fasilitas yang dapat merangsang pola makan yang alami dan kondisi tersebut harus difasilitasi oleh perawat satwa.

Namun terkadang, kebun binatang telah memberi makan untuk satwa tidak terlalu sering, malah hanya sekali atau dua kali dalam sehari sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Penghilangan aktifitas pengenalan makanan secara nyata ini membuat satwa bosan dan tidak aktif. Ditambah lagi adanya jadwal pemberian makan yang tidak rutin, pengenalan jenis makanan hidup, penyembunyian jenis makanan , pewarnaan makanan yang dibuat seperti selai atau madu yang sulit dijangkau lokasinya dapat mendorong satwa untuk aktif mencari dengan peregangan dan memanjat. Menu makanan utuk jenis carnivora berupa daging, memberikan kesempatan dengan memberikan berbagai macam makanan bagi jenis ungulata dan strategi lainnya yang membuat satwa aktif mencari dan bekerja untuk makanannya.

Membuat satwa bekerja lebih dahulu untuk memperoleh makanannya mungkin terdengar kejam tetapi hal ini yang telah ditemukan beberapa waktu dahulu terhadap satwa kurungan, jika diberikan pilihan akan sering bekerja mencari makanannya daripada menerima makanan gratis tanpa bekerja lebih dahulu. Mereka lebih senang untuk melakukan sesuatu. Informasi bahwa satwa harus diberi makan dengan jadwal yang tepat dan tidak adanya variasi sebagai bagian dari bentuk perawatan satwa yang dianggap sebagai metode yang sudah tidak sesuai lagi dan tidak dapat diterima lagi.

Tempat bersembunyi dan Privasi

Menampilkan satwa tetapi tidak mampu memenuhi privasi mereka dapat menyebabkan konsekuensi gangguan secara psikologi dan perilaku. Satwa yang dipaksa untuk tampil di dalam kandang yang akan dikunjungi penonton mungkin akan menderita stress yang kronis yang dapat dengan cepat akan mencapai tingkat yang tidak dapat ditangani lagi. Hal ini bahkan akan menjadi lebih buruk ketika desain kandangnya memungkinkan pengunjung untuk melihat secara dekat satwa dari daerah untuk menonton satwa yang tinggi atau ketika pengunjung yang menonton dimungkinkan untuk mengamati satwa dari segala arah, apalagi yang berada disekitar mereka.

Tempat bersembunyi bagi satwa merupakan aspek penting dalam perawatan satwa dan merupakan bagian yang sering diabaikan atau disepelekan. Tempat bersembunyi dapat terbuat dari struktur tiruan (seperti kotak kayu), bangunan interior, gua/liang bawah tanah, pohon berlubang atau bahkan semak-semak tebal pada vegetasi dasar tanah. Tempat bersembunyi yang teduh mungkin mengkamuflasekan jaring yang menghiasi bagian atas kandang, canopy yang sengaja dibangun atau bahkan pohon besar dimana satwa dapat berdiri dibawahnya.

Kandang yang tersedia harus memadai dan tersedia setiap saat sehingga satwa dapat bersembunyi dari cuaca yang berubah – ubah atau agar satwa dapat berpindah sendiri dari sengatan panas matahari jika mereka memerlukannya. Tempat berteduh seharusnya tergantung pada tempat penampungan didalam ruangan itu sendiri, tetapi harus tersedia pada ruang pajangan utama. Pada saat satwa ditempatkan secara kelompok, semua individu harus mendapat kesempatan untuk menggunakan tempat berteduh pada saat yang sama. Selain itu juga tempat berteduh harus dibangun sedemikian rupa sehingga tidak ada kemungkinan satwa yang dominan menjebak satwa yang lebih lemah didalam kandang tersebut.

Tempat bersembunyi bagi satwa harus terbebas dari genangan air dan letaknya lebih tinggi sehingga menghindari bahaya banjir. Dalam cuaca dingin, tempat tidur harus memiliki pintu atau penutup yang sesuai sehingga kondisi menjadi lebih hangat. Selain itu tempat untuk tidur juga harus mudah digunakan oleh satwa yang terbuat dari bahan yang nyaman. Tempat bersembunyi tersebut tidak dengan mudah dapat dilihat oleh pengunjung.

Ruangan pribadi dari suatu spesies dapat menjadi pertimbangan penting. Banyak satwa yang membentuk hirarki sosial dalam kandang, dimana individu yang dominan memperoleh pilihan pertama akan makanan, area untuk membuat sarang yang diinginkan, sinar matahari dsbnya.

Kekurangan privasi bagi satwa merupakan masalah khusus ketika tempat pengunjung untuk melihat satwa memungkinkan pengunjung untuk berada lebih dekat dengan satwa sehingga respon marah atau menghundar yang ditujukan seperti ‘perkelahian’ atau ‘beterbangan’ (jarak dimana seekor satwa ingin menghindar atau mempertahankan dirinya dari ancaman yang potensial) mereka mulai terpacu. Pelanggaran terhadap jarak ‘kemarahan atau penghindaran’ dapat menyebabkan luka secara psikologis atau dalam kasus yang lebih ekstrim adalah kematian.

Privasi dari satwa lain penghuni kandang juga dapat menjadi pertimbangan penting untuk perawatan satwa. Banyak spesies satwa yang membuat hirarki sosial selama dalam kurungan, dimana individu dominan menjalankan pilihan pertama terhadap makanan, tempat istirahat yang disukai, berjemur dll. Untuk alasan inilah maka penting bahwa satwa yang lebih lemah tidak saja dapat menghindari kontak fisik dengan satwa yang dominan tetapi mereka dapat bergerak pindah dari kontak visual juga.

Privasi juga menjadi penting bagi spesies yang menggambarkan daerahnya melalui cara-cara visual. Sebagai contoh, burung hantu salju cenderung untuk menempati daerah secara visual, akan tetapi beberapa kebun binatang masih menempatkan sekelompok burung hantu salju itu bersama-sama dalam kandang sempit dimana mereka saling dapat melihat. Hal ini adalah hal yang tidak sesuai dan merupakan hal yang dapat membuat stress bagi burung.

Privasi harus selalu menjadi pertimbangan dalam desain kandang yang dibuat. Topografi, bentuk kandang yang sesuai dan penempatan stasiun bagi pengunjung adalah semua keperluan pengetahuan untuk kebutuhan privasi satwa. Dalam kandang yang dipamerkan, pengenalan terhadap cetakan tanah, batu – batu besar, tumpukan semak, akar gulung, sarang – sarang, dinding – dinding, sekat pembatas, kotak perlindungan dan bahan – bahan lainnya akan memberikan kesempatan yang memadai bagi satwa untuk memperoleh privasinya.

Kondisi Lingkungan

Kesejahteraan satwa berdasarkan pada kemampuan satwa untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berubah-ubah tanpa mengalami penderitaan. Jadi semua satwa yang dikurung seharusnya memiliki kondisi temperatur, kelembaban, cahaya dan ventilasi yang sesuai dengan kebutuhan biologi dan perilaku mereka.

Kondisi temperatur dan kelembaban yang tinggi bisa menjadi masalah dalam kandang. Banyak satwa khususnya burung dan mamalia memiliki kemampuan  untuk meningkatkan produksi panas internal ketika mereka kedinginan tetapi mereka memiliki kesulitan untuk mendinginkan tubuh mereka sendiri pada saat kepanasan. Karena pada saat itu mereka hanya dapat mengurangi produksi panas pada tingkat yang sesuai dengan kelanjutan metabolisme dasar mereka. Hal ini mungkin tidak cukup jika berada pada kondisi panas tinggi, sehingga satwa yang dikurung harus diberikan kesempatan untuk mengatur panas dengan memindahkannya ke kondisi yang lebih dingin, daerah yang teduh seperti hutan lindung, galian liang, gua batu, kolam dll. Mereka juga harus disediakan air minum yang dapat diminum setiap saat.

Pencahayaan dan ventilasi adalah pertimbangan perawatan satwa yang penting. Jika spesies tersebut adalah hewan malam maka tidak boleh dipaksa untuk aktif atau secara konstan dipajang selama siang hari kecuali satwa dipajang dengan cahaya yang mengarah keluar, pajangan untuk satwa nocturnal. Ventilasi yang tidak cukup pada kandang mungkin dapat mengakibatkan kelebihan panas  dan stress yang tidak perlu. Hal ini tidaklah selalu mudah untuk melihat atau untuk mengecek apakah ventilasi cukup tersedia dalam kandang sehingga mungkin hal ini perlu dipertimbangkan.

Air Minum

Semua kandang harus dilengkapi dengan suplai air minum yang segar setiap waktu. Dalam situasi pengelompokan tempat tinggal satwa, tiap kandang seharusnya terdiri dari tempat minum dalam jumlah yang cukup untuk menghindari satwa dominan memonopoli akses ke tempat minum. Dalam cuaca dingin, air minum harus disajikan dalam bentuk yang tidak bisa menjadi beku.

Perlindungan dan Keselamatan

Fasilitas kebun binatang harus dioperasikan dengan cara yang dapat menjamin keamanan dan keselamatan satwa, staff dan orang yang tinggal berdekatan dengan sarana kebun binatang. Semua kandang seharusnya didesain dengan ruangan yang cukup luas dan komplek dimana satwa tidak mungkin untuk melarikan diri dari kandangnya.

Semua pembatas kandang (termasuk gerbang dan pintu) harus dibangun dengan memperhatikan kemampuan fisik bagi satwa yang dipelihara. Tembok harus cukup tinggi sehingga satwa tidak dapat melompatinya, parit – parit harus harus cukup lebar sehingga satwa tidak dapat melewatinya dan kandang harus cukup kuat sehingga satwa tidak dapat merobohkannya.

Perhatian ekstra harus diberikan pada kandang dan pintu gerbang. Mereka harus menyesuaikan diri dengan nyaman bila berada dalam kandangnya dan dinding kandang, menghilangkan jarak antara mereka , mereka tidak boleh ditempatkan dalam sel yang sempit sampai tidak bisa bergerak ketika kandang dikunci. Pintu dan gerbang seharusnya selalu terbuka kedalam dan pintu luncur harus dibuat sedemikian rupa sehingga satwa tidak dapat mengangkatnya ke atas atau mengeluarkan dari relnya.

Kandang yang ideal dilengkapi dengan sistem pintu masuk ganda yang memungkinkan staff untuk memasukinya melalui satu pintu, menutupnya kembali sebelum membuka pintu kedua yang menuju kandang dimana satwa ditempatkan. Hal ini dapat mencegah terjadinya tindakan yang kurang hati – hati dan menyebabkan satwa melarikan diri dengan menipu orang yang masuk kandang.

Semua kandang harus dikunci dan berlaku untuk semua jenis spesies. Hal ini bukan saja menghindarkan satwa dari usaha melarikan diri, terutama satwa yang memiliki kecerdasan yang bisa belajar membuka pintu dan gerbang tetapi hal ini mungkin juga mencegah masuknya pengunjung, orang lewat, pencuri dan orang yang berniat jahat lainnya kedalam kandang.

Komponen yang penting dalam strategi keamanan di kebun binatang manapun adalah pembatas yang berada disekitar kandang. Kenyataannya beberapa perkumpulan kebun binatang membuat pembatas kandang sebagai persyaratan yang harus dipenuhi. Idealnya pembatas kandang harus berukuran 2 meter untuk tingginya dan diatasnya diberi kawat berduri dan dasar kandangnya harus dipendam sedalam maksimal 1 meter atau ditempelkan pada dasar tembok. Pembatas kandang tidak hanya akan mencegah satwa melarikan diri tapi juga mencegah masuknya pengunjung atau hewan liar yang tidak diinginkan. Pohon besar yang menjulur diatas kandang seharusnya dipotong untuk memastikan bahwa satwa tidak akan jatuh yang akibatnya akan membuka jalan keluar sehingga satwa bisa melewatinya.

Pembatas yang berada disekitar fasilitas kandang satwa harus terkunci rapat dan memastikan pengunjung merasa aman berada didekat kandang satwa. Pengunjung seharusnya tidak dapat mengulurkan jari, tangan atau lengannya kedalam kandang atau bahkan membuat kontak dengan kandang itu sendiri. Hal ini dapat melindungi pengunjung dan mencegah penularan penyakit antara satwa dan manusia.

Penerangan pada malam hari yang berada pada daerah kunci seharusnya didasarkan pada pertimbangan sebagai bahan untuk membantu personel keamanan.

Ketentuan keadaan darurat sehubungan dengan satwa yang melarikan diri, perawat satwa atau pengunjung yang terluka, bencana alam dan situasi masalah lainnya harus dibuat dan diimplementasikan. Obat-obatan untuk menghentikan bahaya potensial, satwa yang melarikan diri dan senjata api untuk mencegah kehilangan nyawa seharusnya diadakan dan bekerja dengan baik. Semua staff seharusnya mengenal dengan baik tata cara dan protokol keadaan darurat yang seharusnya dicantumkan dalam prosedur manual yang harus diketahui oleh semua staff.

Papan Peringatan

Papan peringatan seharusnya menyediakan informasi akurat tentang biologi satwa, perilaku, gaya alaminya dan status konservasinya. Papan peringatan tersebut seharusnya diletakkan di lokasi yang mudah dilihat oleh anak – anak dan orang dewasa dan tulisannya besar. Papan peringatan itu tidak boleh diletakkan di belakang tempat penonton atau di lokasi lainnya dimana papan peringatan itu mungkin diabaikan.

Animal Show

Pertunjukan satwa seperti sirkus dan pertunjukkan satwa lainnya adalah hal yang umum dijumpai di kebun binatang di hampir seluruh dunia. Kenyataannya beberapa kebun binatang mengoperasikan sirkus mereka sendiri. Pertunjukan yang khas seperti ini melibatkan pemisahan satwa dan menggunakan kandang – kandang yang sempit serta cara pelatihan yang kasar. Satwa seharusnya tidak digunakan dalam pertunjukkan semacam ini karena sama sekali tidak memberikan tontonan yang sehat serta menghibur dan juga tidak mendidik bagi pengunjung.